Hari Anak Nasional: Jangan Diskriminasi Anak Panti

BANDUNG-Sehari menjelang Hari Anak Nasional, Sherly (16) perempuan kecil dari panti Nurul Ihsan, Cijerah, Bandung Kulon, berlatih menyanyikan lagu Ya Maulana yang dipopulerkan Sabyan. Ia bersama teman-teman satu panti mengikuti “gladi resik” untuk berpartisipasi dalam gelaran Musyawarah Nasional (Munas) untuk merumuskan perjuangan penetapan Hari Anak Yatim yang akan dideklarasikan 26 Juli di Hotel Grand Asrilia Bandung.

Seolah mewakili nasib rekan-rekannya di panti, Sherly menuturkan bahwa selain berpartisipasi di kegiatan Munas, ia dan rekan-rekannya ingin menunjukkan bakatnya masing-masing bahwa anak-anak panti sosial juga bisa dan sama dengan anak-anak lainnya yang di luar panti. Karena itu, ia berharap semoga pemerintah dan masyarakat lebih memberikan perhatian lagi terhadap anak-anak panti sosial yang menurutnya mendapat perlakuan diskriminatif.

“Kami meminta agar disamakan, tidak dibeda-bedakan. Jika anak-anak di luar panti bisa sekolah tinggi, kami juga punya keinginan yang sama,” pinta Sherly yang tampak emosional seolah “jeritannya” ini bisa didengar pemerintah dan masyarakat agar benar-benar mau memperhatikan anak-anak panti sosial.

Di aula panti Taman Harapan Muhammadiyah Bandung, dari pagi sampai siang tadi (22/7/2018) anak-anak bergiliran menampilkan kebolehannya masing-masing untuk menyukseskan acara Musyawarah Nasional Forum Nasional Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak – Panti SosialAsuhan Anak (Fornas LKSA-PSAA) 24 – 27 Juli 2018.

Ada seorang anak down syndrome yang menari tarian Topeng, anak etnis Tionghoa yang memeragakan Wushu, dan banyak lagi anak-anak dari berbagai panti sosial di Bandung yang bergantian menampilkan keahliannya memainkan angklung maupun rebana.

Kepala Panti Taman Harapan Asep Koswara juga menaruh harapan agar acara Munas pertama Fornas LKSA-PSAA nanti dapat menjadi ruang bersama yang mampu menggugah perhatian semua unsur, baik pemerintah maupun masyarakat, agar anak-anak panti bernasib sama dengan anak-anak Indonesia lainnya.

Bagi Asep, Munas ini digelar untuk mencari jalan bersama antara pihak-pihak yang aktif di panti dengan pemerintah dan para pemerhati isu anak agar ada solusi terhadap sekitar 250.000 lebih generasi bangsa ini yang hidup di panti-panti sosial yang hanya mengandalkan bantuan dari para tamu dan donatur.

“Anak-anak panti sama seperti anak di luar panti yang bisa sekolah tinggi. Tetapi, jumlah anak-anak panti yang bisa kuliah tidak banyak karena mengandalkan beasiswa dari masing-masing kampus maupun donatur,” kata Asep yang sudah mengabdi di panti sejak 1995.

Thowik SEJUK

Sumber:
Serikat Jurnalis untuk Kebebasan (SEJUK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *