Ahmadiyah Lombok Timur Diserang dan Diusir lagi saat Beribadah Puasa

SIARAN PERS TEROR PERUSAKAN DAN PENGUSIRAN WARGA NEGARA DI KECAMATAN SAKRA TIMUR KABUPAKATEN LOMBOK TIMUR NUSA TENGGARA BARAT

Ashyhadu Allaa ilaaha Illallah Wa Ashyhadu anna Muhammadar-Rasuulullah Bismillahir-rohmaanir-rohiim

Belum juga reda duka akibat teror Mako Brimob dan Bom Surabaya , di tengah suasana khusyunya ibadah puasa Ramadhan yang seharusnya penuh dengan sikap cinta kasih dan menjaga sikap dari nafsu amarah dan kebencian pada sesama, sekelompok masa justru menodai kesucian bulan Ramadhan dengan melakukan teror penyerangan, perusakan dan pengusiran pada sesama warga negara yang jauh sekali dari sikap sebagai orang Muslim, dengan kronologis sebagai berikut :

Kronologi kejadian:

Sabtu ,19 Mei 2018 Jam 11.00 WITA Terjadi penyerangan, perusakan rumah penduduk dan pengusiran terhadap 7 Kepala Keluarga , 24 (dua puluh empat) orang penduduk Dusun Grepek Tanak Eat, Desa Greneng, Kec. Sakra Timur , Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat oleh sekelompok masa.

Kejadian tersebut mengakibatkan 6 (enam) rumah rusak beserta peralatan rumah tangga dan elektronik lainnya serta 4 sepeda motor hancur.

Kelompok massa yang berasal dari daerah yang sama melakukan penyerangan dan perusakan karena sikap kebencian dan intoleransi pada paham keagamaan yang berbeda

Sabtu, 19 Mei 2018 jam 13.00 WITA 24 orang penduduk yang rumahnya diamuk massa, dievakuasi oleh polisi ke kantor Polres Lombok Timur dan sampai siaran pers ini dibuat masih menginap di kantor Polres Lombok Timur

Sabtu, 19 Mei 2018 jam 21.00 WITA Terjadi kembali penyerangan dan perusakan rumah penduduk di lokasi yang sama dan di hadapan aparat kepolisian yang mengakibatkan 1 (satu) rumah hancur

Minggu, 20 Mei 2018 jam 06.30 WITA Terjadi kembali penyerangan dan perusakan rumah penduduk di lokasi yang sama yang mengakibatkan 1 ( satu) rumah penduduk hancur. Target penyerang adalah meratakan seluruh rumah penduduk komunitas Muslim Ahmadiyah dan mengusirnya dari Lombok Timur.

Aksi kejadian amuk massa ini sejatinya sudah terindikasi mulai bulan Maret 2018 dan dipertegas oleh kejadian pada tanggal 09 Mei 2018 di desa yang berbeda, namun masih di Kabupaten Lombok Timur, dengan motif yang sama, yaitu sikap kebencian dan intoleran pada paham keagamaan yang berbeda yang berujung pada pemaksaan untuk keluar dari komunitas Muslim Ahmadiyah atau ancaman pengusiran.

Semua rentetan peristiwa tersebut sebetulnya sejak awal telah dilaporkan oleh pengurus Muslim Ahmadiyah Lombok kepada aparat kepolisian dan beberapa kali dilakukan dialog yang dihadiri Polsek dan Polres Lombok Timur Atas kejadian tersebut di atas kami sebagai warga negara yang sah meminta hak kami:

1. Jaminan keamanan dari pihak kepolisian dimanapun komunitas Muslim Ahmadiyah berada 2. Jaminan dari Pemerintah Pusat dan Daerah untuk tinggal di rumah yang kami miliki secara sah yang dijamin UUD 1945 3. Jaminan dari Pemerintah Pusat dan Daerah untuk komunitas Muslim Ahmadiyah melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing yang dijamin UUD 1945 4. Penegakan hukum yang adil atas para pelaku teror dan kriminal yang melakukan penyerangan, perusakan dan pengusiran 5. Solusi dari pemerintah atas hilang dan rusaknya rumah dan harta benda akibat teror perusakan tersebut.

Kejadian di Lombok Timur ini juga merupakan kejadian puluhan kali yang terus berulang di Nusa Tenggara Barat karena ketidaktegasan hukum dan lambatnya penanganan sehingga pengungsi komunitas Ahmadiyah yang sudah lebih dari 10 tahun pun belum ada jalan keluarnya.

Peristiwa pengulangan teror penyerangan yang diawali oleh sikap kebencian dan intoleransi pada sesama warga negara Indonesia karena perbedaan paham keagamaan ini semakin tumbuh subur akibat dari ketidaktegasan penegakan hukum pada sikap-sikap radikal tersebut sehingga melemahkan wibawa aparat negara dan pemerintah, bahkan menjadi pembenaran kelompok radikal tersebut yang merasa tidak tersentuh hukum.

Kami terus menumbuhkan kepercayaan pada pemerintah dan Nawa Cita Bapak Presiden Jokowi, bahwa “Negara pasti hadir untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara” namun di saat bersamaan butuh tindakan nyata yang tegas terhadap aksi-aksi intoleran dan radikalisme karena alasan paham yang berbeda. Kebencian dan intoleransi adalah akar radikalisme dan terorisme yang harus dibersihkan sejak dini.

LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE

Jakarta, 20 Mei 2018 Yendra Budiana Sekretaris Pers Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Sumber:
Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *